Iklan

PMB Uhamka

Iklan

PMB Uhamka
,

Iklan

Sikap Tengahan Madrasah Kiai Dahlan Meredam Ketegangan Kelompok Mutihan dan Abangan

Redaksi
Kamis, 27 Maret 2025, 13:42 WIB Last Updated 2025-03-27T06:42:46Z


YOGYAKARTA –
Selain menjadi jembatan bagi pendidikan modern dan tradisional, semangat Kiai Ahmad Dahlan mendirikan madrasah juga untuk menjadi bandul penengah antara kelompok mutihan dengan abangan.


Hal itu diungkap oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Irwan Akib dalam keterangan tertulis pada Kamis (27/3). Menurut Irwan, pendidikan yang dikembangkan Muhammadiyah menegaskan sikap tengahan.


Guru Besar Pendidikan Matematik ini menjelaskan, motif awal pendirian madrasah oleh Kiai Ahmad Dahlan sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap sistem pendidikan kolonial yang cenderung sekuler, dan pendidikan Islam tradisional – pesantren yang kolot dan anti kemajuan.


Dorongan lain yang menjadi landasan kuat Kiai Dahlan mendirikan madrasah, kata Irwan, disebabkan adanya perpecahan di tubuh umat Islam antara kelompok mutihan dan abangan. Perecahan ini rentan menimbulkan gesekan dan perseteruan di tubuh umat Islam.


Mengutip penjelasan yang diberikan Kiai Sudja, Irwan Akib menyampaikan bahwa muslim mutihan adalah mereka yang menjalankan syariat Islam yakni syahadat, salat, zakat, puasa Ramadan dan haji, yang biasa mereka ini tidak banyak menghiraukan adat istiadat masyarakat umumnya.


“Sehingga terlihat dalam bertutur dan bertingkah laku janggal, kaku, dan congkak terhadap golongan abangan,” katanya.


Sementara golongan abangan memandang golongan mutihan sangat meremehkan, karena mereka tidak tahu adat istiadat, sopan santun, tata susila dan tata negara, karena tidak sekolah, minim pengetahuan umum, tetapi yang dipelajari doa-doa untuk menghadapi panggilan selamatan dan kenduri.


Sekolah yang dibangun Kiai Dahlan mencoba memadukan dua model pendidikan yang telah ada dengan mengadopsi sistem pendidikan kolonial dan memasukkan pelajaran agama di sekolah.


Hal ini juga untuk menjawab ketegangan antara kelompok mutihan dan kelompok abangan. Kiai Syuja mengatakan, bahwa terlaksananya model sekolah yang demikian, akan bertemulah kedua golongan mutihan dan abangan menjadi satu dengan sama-sama beruntung.


Golongan mutihan tidak kehilangan agamanya, tetapi beruntung bertambah luas ilmu pengetahuan umumnya untuk menjadi sendi cara hidup yang lebih baik dan lebih luas.


Sebaliknya golongan abangan tidak kekurangan kepuasan akan menuntut pengetahuan duniawi malahan bertambah keuntungan dapat mengetahui pengetahuan agama Islam yang membawa ilmu pendidikan jasmani dan rohani (iman dan tauhid kepada Allah swt) dengan mengikuti hukum syariat agama Islam.***

Iklan

PMB Uhamka